Rabu, 10 Juni 2015


" Bersahabatlah dengaku "
karyaku : Muslailati Novila

senyumku masih tetap saja terpaksa...
tidak berasal dari hati.....
ku tilik2, hal seperti ini sudah lama ini kulakoni
automatical, hadir sendiri, tanpa diundang....mengusik keramahanku
apa yang kumau?
kurasa aku miliki semua,....
kata mereka itu yang disebut bahagia
berarti aku punya itu....
kenapa justru aku merasa sendiri
tidak ada siapa2
aku berani hadir jika aku punya hal istimewa dan lebih...
dan aku tidak banyak  miliki itu....
sangat berat berjuang untuk dapatkan pengakuan dan pujian....
apalagi saat zaman mulai menggilas redalita dan rasionalisme...
manusia sudah formatkan diri menjadi Tuhan....
manusia bertahta di atas manusia...
lebih sadis dan menginjak segalanya....
ku ulang sekali lagi....aku tidak selamanya hadirkan hal lebih dan istimewa
hingga aku terpaksa sembunyi...jauh dari comentar tak jelas dan asal.....
terkadang aku berani keluar dari persembunyianku
saat tersentak," peduli apa kata mereka"?
tapi aku tetap tidak bisa sendiri kan?
mari bersahabat denganku....
dan dengan jiwaku yang sudah parah bergolak....
mungkin denganmu aku bisa tertawa merekah, lebar dan tak tertahan...
tapaki sisa usia yang akhirnya akan terhenti di titiknya.....
mari menjadi sahabatku......siapapun kalian.....

Kamis, 30 April 2015



                              " sekelumit dari ceritaku "
                                                                                             
                                                                                                           ( Takengon, 24 Desember 2004 )

Aku  tersentak dari mimpiku yang kurasakan aneh. Kutatap sekelilingku, ternyata aku berada di kamarku dan aku masih mengenakan mukena. Baru aku ingat, aku tertidur setelah selesai melaksanakan shalat ashar, tertidur dalam zikir yang memang selalu kulakukan setelah selesai shalat  wajib. Ku lihat jam dinding kamarku, pukul 17.30 wib, berarti aku tertidur  lebih kurang 30 menit dan aku terbangun oleh mimpi tadi. Tiba-tiba aku merinding, suasana mencekam yang kulihat dalam mimpiku seolah  mempunyai makna tersendiri, tapi aku benar-benar tidak mengerti. Segera aku beranjak keluar kamar, ya Tuhan……kemana semua penghuni rumahku, ke empat anakku biasanya nonton televisi  jam- jam begini, tapi tidak ada. Suamiku memang tadi siang sudah bilang kalau pulang agak terlambat karena ada rapat. Aku seperti ketakutan, oleh mimpi tadi.
Aku berlari ke kamar ibu. Ya Tuhan, begitu nyenyaknya aku tertidur sampai lama meninggalkan ibuku yang sakit di kamarnya.
“ ibu....,” aku menyapa ibu yang kulihat sedang duduk membaca Yasin kecil, ditemani Dewi, anak angkatku yang  sudah berumur 17 tahun. Ibuku sudah menderita stroke sejak 8 tahun silam dan memilih  tinggal bersamaku. Meskipun  ibuku sudah tidak bisa berjalan dan melakukan aktifitas lainnya, tapi ibuku tidak  pernah meninggalkan shalat. Ibuku shalat dengan posisi duduk di kursi roda dan melakukan sujud hanya dengan isyarat.
“ ada apa La? “ ibu menatapku agak heran. Meskipun ibuku tidak bisa melakukan apapun lagi, tetapi aku tetap merasakan bahwa tempat pengaduanku hanya ibu.
“ La mimpi, bu. Menakutkan,” aku menghampiri ibu dan duduk disampingnya. Kemudian aku menceritakan mimpiku dengan perlahan. Tangan ibu yang selalu gemetar mengarah ke kepalaku, mengusapnya. “ mudah-mudahan kita selalu dalam lindungan Allah,” itu ucapan lirih ibu yang membuatku agak tenang.
“ iya, bu. La mau nelpon bang Yofa dulu ya bu,” aku pamit pada ibu.
Segera kuambil handphoneku, aku menghubungi suamiku. “ Ada apa, ma?” suara suamiku di handphone seperti memberikan kenyamanan tersendiri untukku. “ Pa, pulang terus ya. Mama takut,” itu ucapan yang ungkapkan penuh harap. Kudengar suamiku tertawa, “ Takut apa sih jam begini, ini papa sudah di depan rumah,” suamiku menjawab masih disertai tawa. Aku segera menutup hpku dan bergegas ke garasi. Ya, suamiku sudah sampai rupanya. Seperti tidak sabar aku mengajak suamiku ke ruang tamu.
“ Ih, mama ini kenapa sih, tidak sabaran amat. Tunggu dulu, anak-anak dimana,” Tanya suamiku sambil duduk di sofa.
“ Masih main mungkin,” aku menjawab asal. Aku hanya ingin cepat-cepat bercerita tentang mimpiku.
“ Main di mana?” suamiku masih bertanya. Aku mau menjawab, tapi tiba-tiba anak-anakku muncul dari pintu garasi sambil tertawa-tawa.
“ Darimana kalian?” aku langsung bertanya.
“ Itu ma, cari belalang di sawah orang, untuk PR adek  Reza,”  anakku Agi yang menjawab, sementara tiga anakku yang lain langsung ke kamar, pasti saling bantu kerjakan PR.
“ Ya sudah. Bimbing adek-adek mandi  ya  Agi, mama mau cerita dengan papa sebentar,” aku langsung  duduk di depan suamiku yang sudah menunggu dari tadi.
“ Mama mimpi aneh pa,” aku sengaja diam sesaat menunggu reaksi suamiku. Kulihat  suamiku senyum.
“ Kapan mama tidur tidak pernah mimpi?” itu yang diucapkan suamiku sambil tertawa. Aku agak kesal, segera aku pindah kesamping suamiku dan memegang tangannya. Suamiku menatapku agak heran dan melihat ketakutan dimataku.
“ Ya, ma…..ceritalah, papa tadi hanya bercanda, apa mimpi mama,” suamiku berubah serius dan menggenggam  tanganku.
“ Mama melihat seluruh bumi ini tergenang air, semuanya penuh air, seolah hanya mama yang ada, melihat semuanya. Dan……cuaca nampak gelap, suram, sangat mencekam. Mama berada disuatu tempat yang mama tidak tahu dimana. Terus mama melihat ada kuburan……sudah agak tua tapi anehnya tidak terendam air, padahal disekelilingnya penuh air,” aku berujar lirih menceritakan mimpiku. Suamiku agak termangu, tapi masih diam mendengarkan ceritaku.
“ Selanjutnya bagaimana,” suara suamiku ikut lirih dan tangannya masih menggenggam tanganku.
“ Kuburan pertama, mama lihat ada tulisan “ Muchtar seulange”, kuburan kedua mama lihat ada tulisan arab indah bertuliskan “ Laailaahaillallaah, Muhammad Rasulullah” dan satu kuburan lagi bertuliskan “  Reje Linge”, tiga kuburan itu yang tidak terendam banjir,” aku menutup cerita mimpiku  dengan nafas agak terengah. Suamiku terdiam agak lama, aku juga ikut diam.
“ Papa kenal dengan  yang mama lihat dimimpi mama?” aku berujar lirih. Kulihat suamiku terdiam, seperti berpikir keras. Aku menatap penuh harap. Kurasakan detak jantungku semakin cepat. Aku seperti mempunyai firasat bahwa mimpiku bukanlah hanya sekedar bunga tidur belaka.
“ sudah ya mama, mungkin mama hanya lelah. Kita lupakan saja. Nanti habis shalat magrib, kita ngaji sama-sama dengan anak-anak. Berdoa bersama mohon dilindungi oleh Allah SWT,” itu kalimat yang akhirnya kudengar dari suamiku. Meski tidak puas, aku mengiyakan. Toh akhirnya aku sadar bahwa suamiku bukanlah ahli tafsir mimpi. Benar seperti suamiku bilang, sebaiknya menyerahkan semuanya hanya pada Allah semata.
          Ditemani suamiku, aku mempersiapkan makan malam seperti biasa meskipun mimpi tadi masih seperti bermain dibenakku. Anak-anak kulihat sudah selesai mandi sore dibawah bimbingan Agi, putriku yang paling besar. Puji syukur kepada Allah SWT, aku dianugerahkan putra putri yang manis dan menyenangkan, juga mudah dibimbing. Dan belum lama setelah aku selesai menyiapkan makan malam, azan maghrib terdengar.
“ ayo anak-anak, berwudhuk, kita shalat jamaah dan ngaji yasin bersama ya,” suamiku mengarahkan anak-anakku. Sempat kulihat mereka saling berebutan ke kamar mandi. Biasanya dalam urusan rebut merebut, putra ke 4 ku Rahmat selalu juara. Maklum, dia yang paling kecil, abang dan kakaknya mengalah. Putra ke 2 ku, Rulli memang selalu kalah dalam hal rebut merebut, dan paling tidak suka menonjolkan diri. Sifat Rulli sama persis dengan sifat suamiku.
“ mama, cepat,” putriku Agi memanggilku. Aku masih berwudhuk ketika Reza putra ke 3 ku melantunkan iqamat. Bergegas aku ke ruang shalat. Suamiku menjadi imam. Aku sangat khusyuk dalam shalatku, seolah mencari kedamaian dari ketakutan mimpiku tadi. Dan benar saja, selesai shalat maghrib dan mengaji yasin bersama, aku seperti sangat lega. Apapun makna mimpiku, aku menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sesuai kesepakatanku dengan suamiku, aku tidak menceritakan tentang mimpiku pada anak-anak.
          Malam itu berlalu tenang. Dalam tahajudku, aku semakin memperoleh ketenangan. Aku ingin bangun esok subuh dengan keceriaan seperti biasanya dan jalani aktifitasku sebagai guru juga seperti  biasa.
###########-------##########

                                                          ( Takengon, 26 Desember 2004 )
          Hari  Minggu pagi, selesai sarapan dan membersihkan rumah, aku dan anak-anak juga suamiku sedang berkumpul di kamar ibu. Dewi sedang melipat kain yang sudah kering. Seperti biasa, ibu sedang duduk di kursi roda dengan yasinnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras dan terjadi goncangan hebat. “ Laailaahaillallaaaaaahhhhh,” kami semua serentak berteriak. Dengan reflek semua kami berpelukan, ketakutan, masih di kamar ibu.
“ bawa anak-anak keluar, cepaaaaat,” suara teriakan suamiku. Seperti baru tersadar, aku segera  menggamit tangan anak-anakku dan  membawa mereka keluar rumah, sementara suamiku dengan Dewi mengangkat ibu dengan kursi rodanya. Beberapa kali aku dan anak-anakku terjatuh  oleh guncangan yang tidak berhenti. Anak-anakku menangis ketakutan, aku berusaha meneriakkan zikir ditengah gemetar yang tak tertahankan, kuajak anak-anak juga ikut berteriak Allahhuuakbar. Kulihat ibuku pasrah tak berdaya, terayun-ayun di atas kursi roda ketika dilarikan oleh suamiku dan Dewi.
          Kami sudah berkumpul di tempat yang agak lapang, bersama tetangga satu lorong. Aku seperti merasakan bahwa tanah tempat kami berpijak akan tenggelam. Aku benar-benar pasrah. Hanya lafazh zikir yang terdengar dari semua kami. Selalu kuingatkan anak-anak untuk terus berzikir, untuk menghilangkan ketakutan mereka. Dan.....sepuluh menit berlalu, bumi kembali tenang. Dengan memberanikan diri, aku berlari ke dalam rumah untuk mengambil air putih untuk ibuku dan anak-anakku. Detak jantung mereka terlalu kencang akibat takut yang berlebihan. Aku ingat pernah membaca bahwa kondisi seperti itu dapat diredakan dengan minum air putih secara perlahan.
          Belum ada yang berani kembali ke dalam rumah. Semua kami berpandangan dalam diam. Beberapa orang laki-laki termasuk suamiku, menggelar tikar di jalan lorong kami.
“ jangan ada yang masuk ke rumah dulu. Kita disini saja, jangan kemana-mana,” sebagai kepala lorong, suamiku memberikan arahan. Semua menyetujui dan tetap diam di tempat kami berkumpul, sambil terus berdoa.
Malam itu, kami dan tetangga satu lorong tidur dalam tenda (bersambung)

Jumat, 20 Maret 2015



“ MATERI DAN PERUBAHANNYA “
Description: C:\Users\HP PC\Documents\DCIm 123\Camera\IMG_20141014_093253.JPG
Oleh Muslailati S.Pd
(guru kimia MAN Pegasing )
1.  Materi

       Materi dan perubahannya merupakan salah satu pembahasan ilmu kimia yang disajikan untuk siswa siswi tingkatan SLTP/MTS. Apa itu materi ? Secara teori, materi didefinisikan sebagai sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa serta volume. Secara umum, materi sama dengan benda. Pada saat kita menerapkan konsep teori materi terhadap siswa, kita dapat memberikan contoh semua benda yang terdapat di alam sekitar, dimana siswa sedang belajar. Kita boleh memberikan contoh buku, pensil, pulpen, bangku, kursi, jendela, jam tangan, mobil, daun-daunan, air, minyak, bahkan diri kita sendiri, lengkap dengan wujudnya masing-masing (padat, cair dan gas)
          Air misalnya, merupakan materi, berwujud cair,  karena air mempunyai volume (dibuktikan dengan menuangkan air ke dalam gelas ukur dan bisa dilihat ukurannya berapa mL). Air juga merupakan materi karena dapat menempati ruang ( dibuktikan dengan menuangkan air ke dalam beberapa wadah yang berbeda, maka air akan menempati wadah tersebut).
          Jika contoh yang kita berikan adalah kita sendiri, untuk membuktikan bahwa kita termasuk materi adalah dengan menimbang berat badan ( massa = berat ), dan menempati ruang ( kita berada dalam ruangan kelas atau di luar kelas ). Itu merupakan salah satu penerapan sederhana untuk pemahaman konsep materi terhadap siswa. Supaya pembelajaran menjadi menarik, kita bisa menugaskan siswa baik secara pribadi atau kelompok, untuk mencari contoh-contoh materi lain yang ada di lingkungan sekitar. Bahkan jika perlu, siswa boleh diijinkan keluar kelas dengan batasan waktu tertentu, untuk mencari contoh-contoh materi dimaksud.
          Ketika siswa selesai melaksanakan tugasnya, mereka diminta pertanggungjawabannya terhadap contoh-contoh materi yang sudah dicari, disesuaikan dengan konsep materi yang sudah di ajarkan. Tidak menjadi problem ketika suasana agak ricuh, biarkan siswa berekspresi bebas untuk melaksanakan tugasnya, selama kita masih tetap membatasi suasana pembelajaran dalam koridor nya.






          Bagaimana cara menunjukkan kepada siswa bahwa udara juga termasuk materi? Cara sederhana dan menarik adalah dengan membawa balon mainan ke dalam kelas. Kita bisa meminta salah seorang siswa meniup balon tersebut. Ketika balon mengembang, kita dapat menjelaskan bahwa balon tersebut telah berisi udara yang berasal dari nafas kita dan menempati ruangan balon. Dengan percobaan sederhana itu, siswa akan memahami bahwa udara memang menempati ruang. Apa yang akan kita jawab ketika siswa menanyakan bagaimanakah membuktikan bahwa udara sebagai materi, juga mempunyai massa? Kita dapat menjawab bahwa mengukur massa atau massa jenis materi berwujud gas, tidak dapat dilakukan melalui proses yang sama dengan mengukur massa/volume materi yang berwujud padat/cair. Sekilas kita dapat menyelipkan ke bahasan materi tentang “ gas density meter “ yaitu alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis gas. Yang perlu kita tegaskan, bahwa penggolongan udara termasuk materi adalah pembuktian ketika udara menempati ruang ( balon ditiup).


         
2.  Perubahan Materi
Materi ternyata dapat mengalami perubahan. Secara umum, perubahan materi terbagi menjadi 2 macam yaitu perubahan materi secara KIMIA dan perubahan materi secara FISIKA.
Perubahan Materi Secara kimia  adalah perubahan dari suatu zat atau materi yang menyebabkan/ disertai  terbentuknya zat baru. Perubahan Materi Secara Fisika atau Fisis adalah perubahan yang tidak disertai perubahan zat baru (hanya bentuk, wujud atau ukuran yang berubah) tetapi komposisi/susunan zat tersebut tetap.
Dalam proses pembelajaran di dalam kelas, untuk memberikan pemahaman konsep perubahan materi, dapat dilakukan dengan cara demontrasi.
1.     Alat dan bahan yang dibutuhkan adalah :
-      1 buah piring kaca
-      1 buah piring kaleng
-      Es batu ukuran kecil
-      Kertas
-      Korek api
2.    Cara melakukan demontrasi :
a.    Untuk perubahan kimia
-      Bakarlah kertas di dalam piring kaleng. Di amati , warna dan bentuk kertas sebelum dan sesudah dibakar.
b.    Untuk perubahan fisika
-      Letakkan es batu di dalam piring kaca, dan biarkan agak lama. Diamati apa yang terjadi!
3.    Pembahasan
a.    Untuk perubahan kimia : “ kertas sebelum dibakar berwarna putih, setelah dibakar, ternyata ada zat baru yang berwarna hitam (arang). Dapat disimpulkan bahwa kertas yang berwarna hitam (arang), tidak dapat berubah kembali menjadi kertas yang berwarna putih.
b.    Untuk perubahan fisika : “ es batu terbuat dari air, dibekukan di dalam ruang frezeer kulkas. Setelah dibiarkan agak lama di atas piring, ternyata es tersebut mencair dan terbentuk kembali air. Dapat disimpulkan bahwa es batu masih dapat berubah bentuk menjadi air kembali, dan bila dimasukkan lagi ke dalam runag freezer kulkas, maka akan membentuk es batu kembali.

Demikianlah bentuk penyajian sederhana untuk menerapkan konsep materi dan perubahannya kepada siswa. Setelah demontrasi selesai, kita dapat menugaskan siswa untuk mencari beberapa contoh perubahan materi secara kimia dan fisika, yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Atau dapat memberikan tabel berikut ini untuk diisi oleh siswa. Jika waktu kegiatan pembelajarannya tidak mencukupi, bisa dijadikan untuk tugas di rumah.
Contoh tabel :








No
Proses reaksi
Perubahan kimia?
Perubahan fisika?
alasan
1
Apel dibelah
ya
tidak
Pertama dibelah, warna daging apel putih, lama kelamaan berwarna coklat dan tidak dapat berubah warna menjadi putih kembali (terbentuk zat baru)
2
Paku baru  dalam air
ya
tidak
Paku yang berwarna perak lama kelamaan menjadi warna coklat dan tidak bisa berubah warna lagi ke warna perak (terbentuk zat baru)
3
Beras ditumbuk
tidak
ya
Hanya mengalami perubahan bentuk dari kasar ke halus (tidak terbentuk zat baru)
4
Sumbu lilin dibakar
ya
tidak
Sumbu lilin berubah menjadi abu, dan tidak bisa kembali menjadi sumbu ( terbentuk zat baru)
5
Lilin dibakar
tidak
ya
Lilin yang sudah mencair, bila dingin dapat menjadi lilin kembali (tidak terbentuk zat baru, hanya mengalami perubahan bentuk)
6
DLL
-
-
-
Demikianlah bahasan materi dan perubahannya yang penulis kupas secara sederhana. Mudah-mudahan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas belajar anak bangsa. Wasalam.